Investasi Jiwasraya Hilangnya Kepercayaan Nasabah Karena Rekayasa Harga

Investasi Jiwasraya Hilangnya Kepercayaan Nasabah Karena Rekayasa Harga
Dec 21 2019
admin

Skandal tidak berhasil bayar yang menimpa PT Asuransi Jiwasraya (Persero) menggemparkan warga serta aktor pasar keuangan Indonesia dalam sekian waktu paling akhir.

Untuk didapati, karena manajemen baru perusahaan telah mengaku jika faksinya tidak bisa bayar polis JS Saving Rencana punya nasabah sejumlah Rp 12,4 triliun yang jatuh tempo mulai Oktober-Desember 2019.

Perusahaan cuma menjelaskan jika faksinya akan berusaha mengembalikan dana polis itu ke nasabah minimal di tahun 2020.

“Pasti tidak dapat [dikembalikan secepatnya], sumbernya dari corporate action. Minta maaf ke nasabah, dari pertama saya tidak dapat yakinkan tanggal berapakah sebab ini dalam proses,” kata Direktur Penting Jiwasraya Hexana Tri Sasongko dalam Rapat Dengar Opini (RDP) dengan komisi VI DPR RI, Senin (16/12/2019).

Di hari Rabu (18/12/2019), Kejaksaan Agung menjelaskan hasil penyelidikan pada perusahaan asuransi spbo pelat merah itu. dalam pengendalian dana investasi di badan Jiwasraya. Kejaksaan Agung telah menerbitkan Surat Perintah Penyelidikan (Sprindik) pada 17 Desember 2019.

Jaksa Agung ST Burhanuddin menjelaskan penyelidikan itu dikerjakan untuk mendapatkan bukti terdapatnya pekerjaan investasi di 13 perusahaan yang menyalahi aturan atur perusahaan yang baik (GCG), dalam soal ini perusahaan investasi yang mengurus produk JS Saving Rencana punya Jiwasraya.

“Kekuatan kerugian itu muncul sebab terdapatnya aksi yang melanggar prinsip tata atur, yaitu berkaitan pengendalian dana yang dikumpulkan dalam program Savings Rencana,” kata Burhanuddin dalam pertemuan wartawan di Gedung Kejaksaan, Rabu (18/12/2019).

Bagaimana sebenarnya ‘modus’ yang dikerjakan manajemen lama Jiwasraya dalam mengutak-atik investasi supaya bisa penuhi loyalitas return yang ditawarkan pada investor?

Berdasar Dokumen Pengamanan Jiwasraya yang diterima CNBC Indonesia, ada empat hal yang disoroti, Pertama, berlangsung kekeliruan dalam pembentukkan harga produk itu alias mispricing.

Perkara Korupsi Jembatan Cisinga Tasikmalaya Lekas Disidangkan

Produk Saving Rencana yang ditawarkan lewat bancassurance itu nyatanya dijanjikan punya guaranted return sebesar 9-13% per tahun dalam periode 2013-2018, dengan periode pencairan tiap tahun.

Imbal hasil yang ditawarkan dari produk JS Saving Rencana jauh tambah tinggi dibanding dengan tingkat imbal hasil deposito di tahun 2018 yang sekitar 5,2%-7%. Tingkat imbal hasil ini tambah tinggi dari imbal hasil obligasi korporasi dengan rating single A (idA) sampai triple A (AAA) yang sebesar 8-9,5% per tahun.

“Dengan guaranted return yang ditawarkan serta sekarang tambah tinggi dari perkembangan IHSG serta yield obligasi dan bisa dicairkan tiap tahun, Jiwasraya terus terserang efek pasar,” catat dokumen itu, diambil CNBC Indonesia, Kamis (19/12/2019).

Untuk didapati, JS Saving Rencana adalah produk asuransi jiwa berbalut investasi yang ditawarkan lewat bank (bancassurance). Produk ini mengawinkan produk asuransi dengan investasi seperti dalam unit link. Perbedaannya, di produk Saving Rencana efek investasi dijamin oleh perusahaan asuransi, sesaat efek investasi unit link dijamin oleh pemegang polis.

Sorotan ke-2 ialah berkaitan lemahnya prinsip kehati-hatian dalam berinvestasi. Berdasar perincian asset investasi, ucap dokumen itu, Jiwasraya banyak lakukan investasi-investasi pada high risk asset untuk memburu imbal hasil yang tinggi.

Berikut perincian asset investasi Jiwasraya selama 2018.

Saham

Bagian dari keseluruhan asset finansial ialah sebesar 22,4% atau sejumlah Rp 7 triliun. Sebesar 5% dari investasi saham didistribusikan ke beberapa saham anggota indeks LQ45 (45 saham favorit serta paling likuid di Bursa Dampak Indonesia), sesaat bekasnya ke beberapa saham di luar indeks LQ45.

Reksa dana

Bagian alokasi reksa dana diputuskan sebesar 59,1% dari keseluruhan asset finansial atau sejumlah Rp 14,9 triliun.Dari jumlahnya itu, cuma 2% yang diurus oleh perusahaan manager investasi yang termasuk top tier.

Perusahaan tidak mengaplikasikan portofolio manajemen

Tidal terdapatnya portofolio guideline yang mengendalikan alokasi investasi maximum pada high risk asset. Akhirnya, dengan keadaan pasar sekarang, sebagian besar asset investasi tidak bisa diperjual-belikan sebab tidak likuid.

Sorotan ke-3 dalam dokumen itu ialah eksperimen harga saham (window dressing).

Menurut Investoword, window dresssing umumnya diasumsikan dengan manuver yang sering dikerjakan oleh perusahaan terbuka (emiten), bank, pengelola reksa dana, dan perusahaan finansial yang lain untuk mengoles portofolio mereka. Contohnya, beberapa pengelola reksa dana jual saham yang sedang melemah serta beli saham yang sedang mengua buat mengagumkan mereka sudah menggenggam saham yang berkemampuan baik.

Window dressing dapat juga disimpulkan jadi usaha percantik neraca keuangan, dengan trick akuntansi untuk bikin neraca perusahaan serta laporan laba rugi terlihat lebih baik dari sebetulnya.

Dalam dokumen itu jika eksperimen harga saham dikerjakan contohnya dengan jual-beli saham dengan dressing reksa dana.

Modusnya dikerjakan dengan Jiwasraya beli saham yang overpriced (kemahalan) selanjutnya di jual pada harga negosiasi (di atas harga pencapaian) pada perusahaan manager investasi (MI), untuk selanjutnya dibeli kembali oleh Jiwasraya.

“Ini dibuktikan dengan asset investasi Jiwasraya yang menguasai pada saham serta reksa dana saham yang underlying asetnya sama juga dengan portofolio saham langsung,” catat dokumen itu.

Mengenai sorotan ke empat adalah desakan likuiditas pada produk JS Saving Rencana. Desakan likuiditas itu berlangsung sebab penurunan keyakinan nasabah pada produk JS Saving Rencana yang selanjutnya mengakibatkan penurunan penjualan.

Diluar itu, tidak ada backup asset yang cukup untuk penuhi keharusan serta desakan ini membuat berlangsung tidak berhasil bayar polis JS Saving Rencana sejumlah Rp 12,4 triliun.

“Dikarenakan oleh penurunan keyakinan nasabah, lapse rate [klaim] dengan relevan bertambah ke 51% serta terus bertambah sampai 85%. Hal itu mengakibatkan desakan likuiditas pada Jiwasraya.”

One Reply to “Investasi Jiwasraya Hilangnya Kepercayaan Nasabah Karena Rekayasa Harga”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *