Sound For Orangutan Jadi Konser Musik Kampanye Perlindungan Hewan

Sound For Orangutan Jadi Konser Musik Kampanye Perlindungan Hewan
Dec 22 2019
admin

Sound For Orangutan” adalah musik yang dihelat untuk pengamanan orangutan. Generasi milenial diinginkan berperan dalam usaha perlindungan orangutan dan habitatnya. Pekerjaan konservasi tidak mesti selalu ke rimba. Dapat dijalankan dengan perihal menyenangkan serta kreatif seumpama pameran poto serta acara musik.

Pemburuan, perdagangan, sampai pembunuhan masih berubah menjadi ultimatum kehidupan orangutan. Pemanfaatan senapan angin untuk tembak orangutan juga masih ramai.
Konservasi orangutan akan sukses kalau seluruh pihak berperan serta aktif dalam perlindungannya.

Alunan musik rock menghentak tempat lantai empat, di gedung pementasan musik area Fatmawati Jakarta Selatan, Sabtu [14/12/19]. Muda-mudi yang ada dalam acara “Sound For Orangutan” itu lompat-lompat. Tidaklah ada lirik dari group namanya Primata itu. Cuma instrumen. Namun, kalau didengar terperinci, lagu berjudul “Tebang” itu sarat pesan cinta lingkungan.

Di satu sisi musik, diselipkan bunyi suara gergaji mesin serta pohon jatuh. Dibagian lain, alunannya menghentak. Primata mau mengemukakan pesan, penebangan pohon tidak teratasi mengakibatkan deforestasi, tersisa perasaan sedih dalam buat manusia, lebih satwa liar.

Rama Wirawan, anggota Primata menjelaskan, lagu-lagu yang mereka jadikan memiliki kandungan bagian pengamanan lingkungan. Faktor 90bola semiotika berujud irama musik. “Lagu Tebang kami launching tahun kemarin, mengenai deforestasi. Bercerita perasaan sedih satwa liar di rimba, terhitung orangutan, ” katanya.

Primata pula jual kaos cover single itu yang hasilnya disumbangkan ke Centre for Orangutan Protection [COP]. Primata ingin memberikan ke publik, pengamanan orangutan dapat dijalankan lewat musik.

“Nama Primata adalah sindiran untuk kita semuanya. Kami ada pada 2014, telah menghasilkan satu album serta beberapa puluh single.”

Menurut Rama, kampanye penyadaran utamanya mengawasi orangutan serta habitatnya lewat musik cukup efisien. Kesadaran generasi milenial pada gosip lingkungan, terpenting orangutan, mulai nampak. “Kami berkelanjutan mengatakan desas-desus lingkungan hidup, ” pungkasnya.

Tidak cuman Primata, acara itu disemarakkan musisi lain : the Panturas, Straight Answer, Eleventwelfth, Later Just Find, Dried Cassava, Miskin Porno, serta Melanie Soebono.

Loloskan orangutan serta habitatnya

Aulia Rahma Fadilla, Koordinator “Sound For Orangutan” menjelaskan, gelaran acara diperuntukan untuk pengamanan orangutan serta habitatnya. “Manusia tidak bisa egois, mesti pikirkan makhluk lain yang saling hidup di Bumi, terhitung orangutan. ”

Menurutnya, generasi milenial mesti bernada. Kampanye melalui musik salah satu trik. “Kegiatan konservasi tidak selalu turun ke rimba. Dapat dijalankan dengan perihal menyenangkan serta kreatif. Pameran poto serta acara musik ini, umpamanya. ”

Direktur COP Daniek Hendarto mengatakan, kalau merujuk kebijaksanaan, telah banyak peraturan perlindungan orangutan. Mulai penegakan hukum, rehabilitasi sampai pelepasliaran. Namun, fakta di lapangan, belum teraplikasi secara baik. Masih berlangsung pemburuan, perdagangan, sampai pembunuhan. Pemanfaatan senapan angin untuk tembak orangutan ramai.

“Mencari tempat pas untuk pelepasliaran pula susah. Jikalau ada, biayanya tak murah. Sebelum dilepasliarkan, kami mesti melaksanakan analisis lengkap berkaitan keamanan, adanya pakan, kecocokan habitat, serta yang lain. Kami mengharapkan, ada terobosan baru dari KLHK, ” pungkasnya.

Investasi Jiwasraya Hilangnya Kepercayaan Nasabah Karena Rekayasa Harga

Walaupun demikian, Daniek menyebutkan, perhatian pemerintah telah tambah baik. Pemerintah Kalimantan Timur, umpamanya, sediakan tempat seluas 13 ribu hektar di Rimba Lindung Sungai Lesan, Kabupaten Berau, jadi tempat pelepasliaran. Lokasi itu diberi untuk diurus COP.

“Sejak 2017, kami melepas lima individu orangutan. Menurut survey BKSDA Kalimantan Timur, kepadatan orangutan di Rimba Lindung Sungai Lesan kurang lebih 0, 3 individu per km.. Masih termasuk cukup jarang-jarang. ”

Di pusat rehabilitasi orangutan yang diurus COP di Berau, ada 16 individu orangutan. Dua salah satunya siap diluncurkan. “Kami mengatur pusat rehabilitasi orangutan sejak mulai 2015, lokasi kerja mencakup Kal-tim serta Kaltara, ” terangnya.

Rintangan berat sejauh ini, menurut Daniek, lebih pada penegakan hukum. Vonis untuk aktor kejahatan masih lemah. Penegakan hukum, mencegahan pemanfaatan senapan angin liar terus dijalankan.

“Pada dasarnya, senapan angin untuk tembak target di ajang olahraga, namun banyak dipakai untuk memburu. Menurut catatan COP, selama 2006 sampai 2019, ada 53 perkara penembakan orangutan dengan senapan angin. Angka sesungguhnya, kian lebih besar, ” tegasnya.

Melepas Ke Habitat Aslinya

Tutup perjalanan 2019, Borneo Orangutan Survival Foundation [BOSF] kembali melepasliarkan 11 individu orangutan ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya [TNBBBR], di Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah. Satu betina dewasa namanya Suja dan sepasang induk-anak namanya Warna serta Malee yang sukses direpatriasi/dipulangkan dari Thailand ke Indonesia, turut rombongan ini. Suja dipulangkan ke tanah air pada 2008 sesaat Warna serta Malee tahun 2015.

Pekerjaan ini adalah launching ke-19 di TNBBBR, Kabupaten Katingan, sejak mulai 2016. Tersebut, telah 163 individu orangutan hasil rehabilitasi yang dilepasliarkan di sini.

Jamartin Sihite, CEO Yayasan BOS dalam info tertulisnya menjelaskan, rehabilitasi sungguh-sungguh serta pelepasliaran adalah jawaban untuk melestarikan orangutan serta habitatnya.

“Namun, dua situs pelepasliaran yang kami pakai di Kalimantan Tengah, sudah dekati daya tampung maksimum. Rimba Lindung Bukit Batikap serta Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya kurang memuat semua orangutan yang masih direhabilitasi, ” terangnya.

Untuk sesaat, menurut Jamartin, faksinya menyikapi masalah ini dengan memakai semua tempat pelepasliaran. “Kami mesti cari rimba yang penuhi syarat-syarat. Diluar itu, penegakan hukum pada aktor kejahatan mesti lebih tegas. Konservasi sukses kalau seluruh pihak berperan serta aktif, ” tegasnya.

Agung Nugroho, Kepala Balai TNBBBR Lokasi Kalimantan Tengah serta Kalimantan Barat, menyebutkan faksinya menanggung kemananan semua orangutan hasil rehabilitasi yang dilepasliarkan di taman nasional ini.

“Kami mulai memakai lokasi di DAS Hiran untuk pelepasliaran, ini bertujuan mengawasi persebaran orangutan yang dilepasliarkan disana. Kami mengharapkan, usaha ini menopang orangutan berkembang biak juga sekaligus meningkatkan populasi. Menurut tinjauan, sudah ada dua kelahiran alami disana, ” tegasnya.

One Reply to “Sound For Orangutan Jadi Konser Musik Kampanye Perlindungan Hewan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *